Peduli Gizi

Font Size

Layout

Menu Style

Cpanel

Manajemen Gizi pada Pasien Migren

altMigren merupakan suatu sebagai gangguan yang dikarakterisasi dengan serangan sakit kepala secara berkelanjutan dan biasanya disertai mual, photopobia (ketakutan akan adanya cahaya) dan phonopobia (ketakutan akan suara yang keras). Di dunia, migren telah diketahui sebagai penyebab ke-19 kejadian lumpuh (pria dan wanita) serta peringkat ke-12 sebagai penyebab kejadian lumpuh pada wanita.

Kejadian migren biasanya paling banyak dialami oleh wanita dibandingkan dengan pria dengan perbandingan 3:1. Pasien dengan migren biasanya akan membutuhkan istirahat total (52,3%) yang lamanya tergantung dari kondisi pasien sendiri. Pasien migren juga biasanya akan terjadi penurunan produktivitas kerja sebesar 3,5 jam setiap minggunya, 1 hari untuk bersekolah pada anak2 dan berdampak pada peningkatan beban ekonomi sebesar 2,7 juta/hari untuk pria yang bekerja, 18,8 juta/hari untuk wanita karir, dan 38,5 juta/hari untuk ibu rumah tangga diseluruh dunia. Migren juga dapat berdampak pada kehidupan sehari-hari pada pasien (kehidupan seks, cinta, menjalin persahabatan, mencari pekerjaan, dan lain sebagainya).


Berbagai macam teori telah dikemukakan sebagai jawaban untuk mengetahui penyebab migren. Migren dapat terjadi karena adanya gangguan dalam metabolism serotonin (5-HT), aktivasi dari platelet, peningkatan sensitivitas terhadap donor nitric oxide (NO) yang berdampak pada vasokonstriksi pembuluh darah, penurunan enzim metabolisme, gangguan fungsi pada reseptor opioat, serta gangguan pada electro-encephalographic (EEG) di otak.

Migren merupakan suatu penyakit yang apabila tidak ditangani secara tepat dapat berakibat pada gangguan penyakit jantung dan stroke. Migren lebih berbahaya apabila tidak ditangani dengan baik pada wanita karena faktor resiko terjadinya penyakit jantung dan stroke lebih besar dibandingkan dengan pria. Sebuah penelitian menemukan bahwa pria yang menderita migren 1,24 kali akan mengalami penyakit jantung, 1,12 kali akan mengalami stroke akibat penyempitan pembuluh darah di otak (iskemik), 1,42 kali akan mengalami sumbatan pada pembuluh darah di jantung, 1,15 kali akan mengalami angina dan 1,07 kali akan mengalami gagal jantung (ischemic cardiovascular death) dibandingkan dengan pria yang tidak menderita migren. Sedangkan pada wanita yang mengalami migren cenderung akan mengalami 2,15 kali penyakit jantung, 1,91 kali akan mengalami stroke akibat penyempitan pembuluh darah di otak (iskemik), 2,08 kali akan mengalami sumbatan pada pembuluh darah di jantung, 1,71 kali akan mengalami angina dan 2,33 kali akan mengalam gagal jantung (ischemic cardiovascular death).

Menurut the international headache society, migren diklasifikasikan menjadi 2, yaitu migren dengan aura dan migren tanpa aura. Migren dengan aura sering disebut dengan migren klasik (classic migraine). Aura merupakan kombinasi dari gejala syaraf focal seperti pandangan meredup, kepala serasa ditusuk-tusuk jarum, numbness dan dispasia yang dapat berlangsung 5 menit hingga 1 jam dan bersifat berulang-ulang. Gejala khas pada migren dengan aura adalah adanya gangguan penglihatan yang dominan disamping gejala yang lain juga dapat terjadi. Sedangkan migren tanpa aura adalah migren yang didahului dengan sakit kepala yang terjadi selama 4-72 jam (tidak diobati maupun sudah diobati tapi gagal) yang disertai dengan 1 dari 2 gejala yang khas yaitu mual dan muntah atau keduanya atau photopobia dan phonopobia.

Penderita migren dengan aura cenderung memiliki faktor resiko untuk mengalami stroke dan penyakit jantung. Sebuah meta analisis menemukan bahwa penderita migren dengan aura akan memiliki faktor resiko 2 kali lipat untuk menderita stroke dibandingkan dengan pasien migren tanpa aura.

Beberapa faktor dapat memacu terjadinya migren. Faktor tersebut antara lain alkohol, stress, kebingungan (anxiety), perubahan pola tidur (begadang), stimulasi cahaya, beberapa bahan makanan yang mengandung nitrit, aspartat, glutamine dan tiramin, berada di tempat yang tinggi (pegunungan), obat-obatan (nitrogliserin pada obat batuk, hydralazine, histamine, estrogen, reserpin, steroid), menstruasi/ovulasi, senyawa organic, parfum, aktivitas seksual, telat makan, depresi, rokok dan perubahan cuaca.

Secara umum, manajemen pasien migren secara medis biasanya dilakukan dengan menggunakan obat-obatan prophylaxis (pereda rasa sakit) dengan tujuan untuk menekan rasa nyeri pada penderitanya. Penekanan rasa nyeri ini didasarkan pada mekanisme penyebab nyeri berupa menghambat hipereksitasi dari syaraf serta menormalkan kondisi modulasi yang terganggu pada nosiseptif. Pada penderita migren, beberapa syaraf di daerah otak (korteks) lebih mudah tereksitasi oleh stimulus senyawa ubiquionone, perubahan hormonal serta cahaya. Peningkatan sensitivitas tereksitasi pada penderita migren ini masih belum diketahui secara pasti,namun adanya gangguan pada glutamate akibat adanya penurunan pada gen FHM1 yang berdampak pada hiperaktivitas dari jalur kalsium yang disebut dengan Cav2.1.

Beberapa obat yang digunakan dalam mengintervensi migren secara medis adalah melalui penggunaan obat yang bersifat beta blocker (propanolol dan timolol), antidepressant (amitriptuline, nortryptiline, doxepin), calcium channel antagonist (diltiazem, nifedipine), serotonin antagonist (methysergide), non-steroid anti inflammatory drug (NSAID) (naproxen dan natrium naproxen), angiostensin blockade (lisinopril,candersartan) dan anticonvulsant (Divalproex, natrium valproate, gabapentin, topiramate).

Pasien migren biasanya diberikan obat-obatan dengan jenis propanolol, timolol, amitriptuline, divalproex, natrium valproate dan topiramate yang telah terbukti kuat mampu meredakan nyeri pada pasien migren. Selain itu, beberapa obat seperti gabapentin, naproxen, dihydroergotamine mesylate, candansertan, lisinopril, atenolol, metoprolol, nadolol, fluoxetine, verapamil, estradiol topical gel (estrogel), dan racun botulinum type A (Botox) juga sering diberikan meskipun bukti klinis masih tergolong sedang. Beberapa obat juga kadang turut diberikan meskipun belum ada bukti atau penelitian klinis untuk membuktikannya seperti lain diltiazem, MAO inhibitor (bupropion, mirtazapine, phenelzine, trazodone, venfaxine, ibuprofen, cyproheptadine, fluvoxamine, paroxetine, sertaline, doxepin, imipramine, nortriptuline). Obat-obatan ini ada yang mampu berinteraksi dengan beberapa jenis obat yang lain sehingga sangat dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan sebelum menggunakannya.

Selain itu, makanan juga memegang peranan penting dalam manajemen gizi pada pasien migren. Tak banyak masyarakat yang memahami mengenai peran penting gizi atau makanan dalam manajemen migren. Pasien terkadang hanya diberikan obat tanpa dirujuk kepada tenaga gizi dalam pengaturan makanan. Padahal, beberapa senyawa gizi yang terdapat dalam makanan dapat memicu atau memperparah terjadinya migren sehingga perlu diperhatikan pengaturan makanan pada pasien migren sebagai supporting unit atau pelengkap dalam manajemen pasien migren.

Beberapa senyawa seperti tiramin, feniletilenamin, theobromine, phenolic amines, octopamine, MSG, nitrites, nitric oxide, alergen, asam lemak linoleat dan oleat, tartazin, sulfida, kafein, aspartam, histamin, sulfit dan tartazin merupakan senyawa yang mampu memicu terjadinya bahkan memperburuk migren pada saat serangan migren terjadi. Senyawa-senyawa ini terdapat pada keju, coklat, jeruk, daging olahan (sosis, bakso, kornet, hot dog, dlsb), gorengan, susu (bagi yang memiliki alergi susu), snack/makanan cepat saji, kopi, teh, soda, pewarna makanan, gula buatan dan anggur atau minuman beralkohol.

Selain itu, pada beberapa kasus, pasien migren juga perlu diberikan suplemen vitamin apabila asupan vitamin dari makanan kurang atau defisit. Beberapa studi menunjukkan bahwa vitamin B2 (riboflavin) dan B3 (Niasin) berperan dalam manajemen pasien migren. Vitamin B2 sangat esensial untuk menjaga keseimbangan membran dan fungsi dari penghasil energi. Pada migren, terjadi ketidakseimbangan membran dan berhubungan dengan kondisi kerusakan pada mitokondria sehingga vitamin B2 sangat dibutuhkan dalam kondisi migren. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa penggunaan 400 mg vitamin B2 selama 3 bulan mampu menurunkan 50% serangan migren dari 59% pasien dibandingkan dengan plasebo (19%). Penggunaan dalam dosis ini dilaporkan memiliki efek samping yang minimal berupa diare dan polyuria. Selain itu, konsumsi  obat-obatan yang bersifat antikonvulsan juga mampu mengurangi efektivitas dari vitamin B2 sehingga perlu diberikan dalam jumlah yang besar sehingga vitamin B2 diperlukan pada pasien migren.

Selain vitamin B2, vitamin B3 (niasin) juga telah dilaporkan memiliki aktivitas dalam menurunkan serangan migren. Pada kondisi migren, akan terjadi aktivasi dari komplek trigeminovaskular yang berdampak penyempitan pembuluh darah (vasokonstriksi) pada daerah intracranial dan pelebaran pembuluh darah (vasodilatasi) pada daerah ekstrakranial yang berdampak pada aktivasi dari syaraf nosiseptif perifervaskuler. Vitamin B3 (niasin) memiliki efek vasodilator pada pembuluh darah. Vitamin B3 (Niasin) juga telah dilaporkan sebagai agen vasodilator pada pembuluh perifer yang efektif. Beberapa laporan telah menunjukkan bahwa niasin sangat potensial dalam manajemen pasien migren. Akan tetapi, penelitian ini hanya belum sempurna dan memerlukan penelitian lebih lanjut dan mendalam.

Selain vitamin B2 dan B3, terdapat beberapa jenis senyawa gizi lain yang berperan dalam manajemen migren dan perlu mendapat perhatian karena penelitian yang ada di dalamnya masih sangat sedikit. Beberapa senyawa tersebut antara lain magnesium, koenzim q10 (ubiquinone), asam lemak omega 3 dan asam alpha lipoat (lipoic acid).

Magnesium merupakan komponen mikromineral yang berperan penting dalam berbagai proses fisiologis dalam tubuh. Magnesium berperan dalam pengaturan metabolism pembentukan platelet yang ditemukan meningkat pada pasien migren. Selain itu, magnesium juga berperan dalam menstabilisasi membrane sel. Magnesium juga berperan dalam memodulasi reseptor serotonin, pembentukan dan pelepasan nitric oxide, mediator peradangan (inflamasi) dan berbagai reseptor serta mediator syaraf (neurotransmiter) lain di dalam otak. Magnesium juga berperan dalam mengontrol tekanan darah.

Beberapa studi menunjukkan bahwa pada penderita migren ditemukan kadar magnesium yang rendah di dalam otak. Dua study double blind telah menunjukkan bahwa suplementasi magnesium secara oral sangat efektif dalam mencegah kekambuhan migren. Dosis yang dianjurkan dalam manajemen ini adalah berkisar 400 mg/hari. Namun, meskipun memberikan efek yang menguntungkan, konsumsi magnesium dilaporkan dapat menimbulkan diare.

Selain magnesium, koenzim q10 juga dilaporkan menurun pada penderita migren. Koenzim q10 merupakan enzim antioksidan yang terdapat di dalam tubuh yang berperan dalam transfer elektron pada siklus transfer elektron di dalam mitokondria. Suplementasi koenzim q10 pada pasien dengan migrant pada dosis 150 mg/hari selama 3 bulan mampu menurunkan serangan migren sebesar 50%. Suplementasi koenzim q10 mampu menurunkan frekuensi serangan sakit kepala, lama sakit kepala dan lamanya nausea (mual) pada penderita migren.
Asam alpha lipoat atau yang dikenal dengan asam thiotik (thioctic acid) juga memiliki peran dalam manajemen pasien dengan migren. Asam alpha lipoat berperan dalam meningkatkan metabolism oksigen di dalam mitokondria dan produksi ATP. Suplementasi asam alpha lipoat sebesar 600 mg selama 3 bulan mampu menurunkan frekuensi serangan, lama sakit kepala dan keparahan sakit kepala pada pasien migren.

Diet rendah lemak dengan menggunakan asam lemak omega 3 mampu mengurangi frekuensi, durasi dan penggunaan obat-obatan medis pada penderita migren. Akan tetapi perlu diperhatikan bahwa penelitian-penelitian tersebut masih perlu dikembangkan karena masih jumlah subyek dan power yang rendah. Oleh karena itu, manajemen gizi pada pasien migren menjadi sebuah hal yang penting dan oleh karenanya, kolaborasi antar tenaga kesehatan menjadi hal yang sangat mutlak diperlukan dalam mewujudkan pasien sehat dan sejahtera.

Dokumen asli : http://kesehatan.kompasiana.com/makanan/2011/08/28/manajemen-gizi-pada-pasien-migren/

You are here: Home > Lifestyle > Manajemen Gizi pada Pasien Migren