Peduli Gizi

Font Size

Layout

Menu Style

Cpanel

Kelanjutan Profesi Gizi di Indonesia

alt(AIPGI.org) Pada tanggal 11 Februari 2011 di Kampus IPB Baranangsiang Bogor dilakukan rapat Komisi I AIPGI membahas mengenai Pendirian Profesi Gizi di Indonesia. Rapat yang dimulai pada pukul 13.00 WIB tersebut bertujuan untuk berbagi pengalaman penyelenggaraan program sarjana gizi (S.Gz) dan profesi gizi (RD) serta merumuskan kesepakatan dalam rangka pengembangan pendidikan S.Gz dan RD. Dalam pertemuan ini hadir 28peserta yang terdiri dari unsur pengurus AIPGI, PERSAGI, ASDI, ILMAGI, dan pimpinan Program Studi S1 Ilmu Gizi dari 13 Pendidikan Tinggi penyelenggara program S.Gz anggota AIPGI.

Dalam rapat tersebut Prof. Hamam Hadi, MS, Sc.D meyampaikan pembukaannya dengan melakukan refleksi terhadap perkembangan institusi pendidikan gizi di Indonesia. “Program Studi Gizi yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia sudah berjumlah 15 dan pada rapat ini diharapkan diperoleh sehingga kualitas pendidikan dan akreditasi dari masing-masing program studi tidak terlampau jauh. Dari rapat ini juga diharapkan Program Studi yang berencana menjalankan program dietisien juga mempertimbangkan mengenai pelaksanaan program spesialis dokter gizi medis/klinis karena dikhawatirkan akan menimbulkan pertentangan pada pelaksanaannya.”

Pada sesi presentasi yang dimoderatori oleh Prof. Sulhan, terdapat dua pembicara yaitu Dr. Ir. Budi Setiawan, MS yang menyampaikan pengalaman penyelenggaraan pendidikan S1 Gizi di Intitut Pertanian Bogor serta Susetyowati, DCN, M.Kes yang memaparkan pengalaman pendidikan profesi gizi yang dilaksanakan di Program Studi Gizi Kesehatan, Fakultas Kedokteran, Universitas Gadjah Mada. Pihak IPB yang telah meluluskan sarjana gizi sejak 1981 memaparkan komponen kurikulum yang dijalankan serta beberapa komponen yang perlu diperhatikan dalam proses akreditasi. Beliau menyatakan bahwa nilai yang tinggi dapat dicapai jika seluruh stakeholder memahami visi dan misi yang telah dirumuskan sebelumnya. “Kita juga harus memiliki sistem audit internal, setiap tahun akan terjadi saling mengaudit sehingga tiap tahun dapat diketahui masing-masing kekurangan masing-masing. Nilai dari borang program studi memberikan 75% setelah itu baru unit pengelola dan evaluasi diri program studi.”

Dalam presentasinya Susetyowati, DCN, M.Kes menjelaskan bahwa Pendidikan Profesi yang dijalankan di Program Studi Gizi Kesehatan FK UGM mengadopsi kurikulum dari American Dietetic Association (ADA) dengan 3 bidang yaitu gizi klinik, gizi institusi dan gizi masyarakat. Ada beberapa kompetensi yang khas di masing-masing bidang dan ada kompetensi yang harus ada di masing-masing. “Level kompetensi yang diberlakukan ada 4. Untuk mengaplikasikan yang disepakati di AIPGI diberlakukan program pendidikan selama 1000 jam. Pada awalnya 900 jam namun untuk mengakomodasi kenaikan pangkat pada institusi pemerintahkan yang memberikan poin untuk kenaikan pangkat seperti halnya dokter. Total waktu yang dialokasikan untuk kegiatan gizi klinik adalah 50%, gizi masyarakat 25% dan gizi klinik 25%”.

Dalam rapat tersebut juga dilakukan kesepakan mengenai beberapa hal yang terkait dengan pendidikan profesi gizi (Dietetic Internship) di Indonesia. Berikut ini adalah komponen yang telah disepakati dalam rapat kerja tersebut:

  1. Penetapan uji kompetensi profesi gizi;
  2. Alokasi waktu penyelenggaraan profesi serta jumlah SKS yang dibutuhkan;
  3. Komponen penilaian;
  4. Metode pengujian kompetensi;
  5. Sertifikasi yang diberikan;
  6. Masa berlaku sertifikat;
  7. Proses perpanjangan
  8. Biaya yang harus dikeluarkan;
  9. Waktu pengujian;
  10. Kemungkinan multi-entri. Output dari hasil pertemuan adalah adanya hasil keputusan mengenai penyelenggaraan profesi serta rekomendasi universitas yang akan menjadi pioner dalam penyelenggaraan profesi di Indonesia.

Sumber : http://aipgi.org/news/tindak-lanjut-pendirian-profesi

You are here: Home > Berita > Kelanjutan Profesi Gizi di Indonesia