Peduli Gizi

Font Size

Layout

Menu Style

Cpanel

Petugas Rumah Sakit Lupa Beri Makan, si Nenek pun Meninggal

 

altBuckinghamshire, Inggris, Seorang nenek masuk rumah sakit karena menderita multiple sclerosis (MS). Ia harus makan melalui tabung makanan karena selalu tersedak bila makan lewat mulut. Tragisnya, ia meninggal di rumah sakit gara-gara petugas lupa memberinya makan selama 4 hari.
 
Hildegard Mikalansky, nenek 67 tahun asal Buckinghamshire yang menderita multiple sclerosis (MS) dirawat di rumah sakit setelah mengalami cedera kepala dan patah tulang rusuk setelah mengalami kecelakaan dan jatuh.
 
Dokter memutuskan untuk memberinya makan langsung ke perut melalui tabung makanan karena ia selalu tersedak saat makan menggunakan mulut. Tetapi petugas rumah sakit lupa memasok tabung dengan nutrisi yang dibutuhkan selama 4 hari. Ia meninggal di rumah sakit keesokan harinya dan diduga karena malnutrisi.
 
"Saya melihat wanita yang lincah dan hangat tapi kondisinya memburuk dan meninggal dengan cepat di rumah sakit," jelas Mike Stringer (41 tahun), putri Mikalansky, seperti dilansir Dailymail, Selasa (4/10/2011).
 
Pada pemeriksaan yang dilakukan diketahui Stoke Mandeville Hospital di Buckinghamshire Inggris yang merawat si nenek, lalai dan terlambat memberikan perawatan pada pasien di akhir pekan.

Read more:

Ketua Yayasan Imbau Pendidikan Gizi Masuk Kurikulum Sekolah

 

altJAKARTA - Yayasan Gerakan Masyarakat Sadar Gizi menilai pentingnya edukasi gizi seimbang bagi anak usia sekolah. Karenanya, Yayasan mengimbau pemerintah untuk memasukkan pendidikan gizi ke dalam kurikulum sekolah.
 
“Dengan begitu, anak Indonesia sejak dini mengetahui pola hidup sehat, cara memilih makanan atau jajanan yang bergizi seimbang, membaca lebel informasi gizi pada kemasan makanan, dan lain-lain,” kata Ketua Yayasan, Dr. Tirta Prawita Sari, MSc, Jumat (22/7), di sela kegiatan edukasi gizi seimbang dengan topik ‘Sarapan Sehat untuk Cerdaskan Anak’. Kegiatan yang diadakan di SDN Guntur 04 Pagi Jakarta, ini dalam rangka Hari Anak Nasional 2011.
 
Menurutnya, sekolah juga harus memfasilitasi terbentuknya kelompok teman sebaya ‘anak sadar gizi’. Sekolah mengajarkan dan menganjurkan sarapan pagi dan atau membawa bekal sehat untuk perkembangan kecerdasan muridnya.
 
Selain itu, merevitalisasi kantin sehat di sekolah dengan menu jajanan bergizi seimbang. Membudayakan gerakan ’solidaritas gizi’ dengan membiasakan anak memberikan kepada kerabatnya yang membutuhkan sumber gizi.

Read more:

131 Bayi di Karawang Mengidap Gizi Buruk

altSediktinya ada sekitar 131 anak di bawah lima tahun (balita) mengidap gizi buruk tersebar di seluruh Kabupaten Karawang. Hampir seluruh balita yang menderita gizi buruk merupakan kalangan masyarakat tidak mampu. Demikian disampaikan Kepala Dinas Kesehatan Karawang, Yuskan Yasin, Rabu (7/9).

Bahkan di kecatan Tirtajaya, dalam satu tahun terakhir sudah ada balita yang meninggal akibat gizi buruk. "Balita yang mengidap gizi buruk tersebut lahir dari kalangan keluarga miskin, sehingga menjadikan kurangnnya asupan gizi yang layak dan mencukupi," katanya.

Permasalahan lain juga, kata Yuskan, adalah adanya ketidakpahamanan masyarakat terkait dengan seperti apa memberikan asupan gizi yang baik bagi anak bayi. "Sehingga banyak orang tua yang mengabaikan asupan gizi yang baik bagi anak mereka,” ujarnya.

Read more:

Imas, Bocah Penderita Gizi Buruk di Karawang Akhirnya Meninggal

altAnak berusia tujuh tahun penderita gizi buruk di Kabupaten Karawang, Jawa Barat Imas Nuraeni, akhirnya meninggal dunia. Dia dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Karangmulang, Dawuan, Rabu, setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah setempat.

Pemakaman warga Kampung Pejaten, Desa Dawuan Tengah, Kecamatan Cikampek tersebut diwarnai suasana haru.  Sebab pihak keluarga baru membawa Imas pada empat hari terakhir ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Karawang, untuk mendapat pertolongan atau perawatan lebih lanjut.

Imas yang merupakan anak keempat dari pasangan Abdullah dan Ani Rohani meninggal dunia pada Selasa (6/9) malam dan dimakamkan pada Rabu pagi oleh pihak keluarga di Taman Pemakaman Umum Karangmulang. Abdullah, orang tua Imas, Rabu, mengaku baru mengetahui anaknya menderita gizi buruk setelah dibawa ke Puskesmas.

Saat itu, pihak Puskesmas menyimpulkan kalau anaknya itu menderita gizi buruk. Karena itu, baru empat hari terakhir, pihak keluarga membawa Imas ke RSUD Karawang agar bisa terselamatkan. “Saya baru tahu anak saya menderita gizi buruk setelah dibawa ke Puskesmas setempat. Jadi Imas terlambat mendapat perawatan saat dibawa RSUD Karawang yang pada akhirnya meninggal dunia pada Selasa (6/9) malam,” kata dia, di Karawang.

Read more:

Sejarah Gizi di Indonesia

altKata gizi yang digunakan di Indoensia saat ini merupakan kata serapan yang berasal dari bahasa Arab, gizzah, yang berarti makanan sehat. Hingga saat ini, masalah nutrisi atau gizi masih menjadi agenda besar di Indonesia.

Pentingnya gizi dalam kehidupan bangsa Indonesia sejatinya sudah dirintis sejak lama oleh Prof. Poerwo Soedarmo. Sejak awal kemerdekaan, Profesor Poerwo yang kemudian dijuluki sebagai bapak gizi Indonesia telah melihat pentingnya gizi dalam sebuah kehidupan berbangsa.

Hingga lahirlah slogan “empat sehat lima sempurna”. Kemudian oleh J Leimena, Menteri Kesehatan RI saat itu, Prof Poerwo diminta untuk mengepalai Lembaga Makanan Rakyat (LMR). LMR yang lebih dikenal dengan nama INstitut Voor Volksvoeding (IVV) pada saat itu merupakan bagian dari lembaga penelitian kesehatan, yakni lembaga Eijkman. Pada awal pendirian lembaga tersebut, kondisi masyarakat Indonesia masih memprihatinkan.

Read more:

Kelanjutan Profesi Gizi di Indonesia

alt(AIPGI.org) Pada tanggal 11 Februari 2011 di Kampus IPB Baranangsiang Bogor dilakukan rapat Komisi I AIPGI membahas mengenai Pendirian Profesi Gizi di Indonesia. Rapat yang dimulai pada pukul 13.00 WIB tersebut bertujuan untuk berbagi pengalaman penyelenggaraan program sarjana gizi (S.Gz) dan profesi gizi (RD) serta merumuskan kesepakatan dalam rangka pengembangan pendidikan S.Gz dan RD. Dalam pertemuan ini hadir 28peserta yang terdiri dari unsur pengurus AIPGI, PERSAGI, ASDI, ILMAGI, dan pimpinan Program Studi S1 Ilmu Gizi dari 13 Pendidikan Tinggi penyelenggara program S.Gz anggota AIPGI.

Dalam rapat tersebut Prof. Hamam Hadi, MS, Sc.D meyampaikan pembukaannya dengan melakukan refleksi terhadap perkembangan institusi pendidikan gizi di Indonesia. “Program Studi Gizi yang tersebar di beberapa provinsi di Indonesia sudah berjumlah 15 dan pada rapat ini diharapkan diperoleh sehingga kualitas pendidikan dan akreditasi dari masing-masing program studi tidak terlampau jauh. Dari rapat ini juga diharapkan Program Studi yang berencana menjalankan program dietisien juga mempertimbangkan mengenai pelaksanaan program spesialis dokter gizi medis/klinis karena dikhawatirkan akan menimbulkan pertentangan pada pelaksanaannya.”

Read more:

You are here: Home > Berita